Mengurangi Keterbatasan Sumber Daya Bahan Baku dengan Reverse Logistics
Abstrak
Reverse
logistics saat ini menjadi salah satu alternatif terbaik yang dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi keterbatasan sumber daya bahan baku. Selain
itu, reverse logistics terbukti dapat memberikan nilai ekonomi bagi para
pelakunya Reverse
Logistics
menunjukkan semua operasi yang berkaitan dengan penggunaan kembali produk dan
bahan. Proses ini mencakup manajemen dan penjualan surplus, serta produk
dikembalikan ke vendor dari pembeli. Reverse ini menyangkut semua operasi yang
berhubungan dengan penggunaan kembali produk dan bahan. Ini adalah proses
perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang efisien, efektif aliran biaya
bahan baku, inventaris dalam proses, barang jadi dan informasi terkait dari
titik konsumsi ke titik asal untuk tujuan merebut kembali nilai atau tepat
pembuangan. Lebih tepatnya, proses reverse logistics adalah proses pemindahan
barang dari tempat akhir barang tersebut dengan tujuan untuk digunakan kembali
atau untuk dibuang dengan benar.
Kata Kunci: Reverse Logistic, sumber daya bahan
baku, surplus.
Abstract
Reverse logistics now become one of alternative
best that can be considered to reduce the limited
means raw materials. In
addition, reverse logistics prove to
gives economic value for the culprit reverse logistics exhibiting all
operations relating to the use of return the product and materials. This
process includes management and sales surplus, as products returned to vendor
from the buyer. Reverse this is concerning whole operation dealing with the use
return the product and materials. This is the planning process, the
implementation and control efficient, effective the flow of cost of raw
materials, inventory in the process, goods so and information related to from
the point consumption to the point of origin for the purpose of reclaim value
or proper disposal. To be precise , the process reverse logistics is the
relocation process goods from the place the end of the goods for the purpose of
used back or to be thrown away in truth .
Keywords: reverse logistic , resources raw materials , surplus
Pendahuluan
Dalam dunia industri tentunya kita membutuhkan suatu bahan
baku agar kita mendapatkan produk yang kita inginkan. Karena semakin
berkembangnya produk baik dalam maupun luar negeri maka kebutuhan akan sumber
daya bahan baku pun semakin meningkat. Sedangkan pada kenyataan nya sumber daya
bahan baku saat ini sangat terbatas. Tentunya diperlukan penanggulangan yang
konkrit untuk menanggulangi masalah ini, yaitu dengan diterapkan nya metode Reverse Logistics. Reverse Logistics adalah salah satu pengaruh pengorganisasian dan
pemanfaatan teknologi logistic dalam pengelolaan reverse logistics di perusahaan manufaktur. Metode ini dilakukan untuk
merencanakan, mengaplikasikan, dan mengendalikan proses agar tercapai
efisiensi.
Perusahaan
dapat memperoleh keuntungan dari setiap pengembalian produk dengan merancang
rantai pasokan yang forward dan reverse. Pendekatan siklus hidup
dapat memberi penekanan kepada perusahaan untuk menemukan cara yang lebih baik
dalam rangka mengelola rantai pasokannya. Menurut Xanthopoulos dan Likovou
(2009), tujuan reverse logistics adalah untuk mempromosikan pembangunan
berkelanjutan melalui penanganan produk end-of-life yang efisien dan
menguntungkan, sehingga selaras dengan aturan yang berkaitan dengan lingkungan.
Sebuah pendekatan kolaboratif diajukan akan membuat tingkat pengumpulan untuk
produk terpakai menjadi suatu potensi bagi para retailer.
Bab 2.
Landasan Teori
2.1
Reverse Logistics
Terdapat
beberapa definisi Reverse Logistics
ditinjau dari segi proses dan tujuan aktivitasnya. Salah satunya adalah
definisi yang disampaikan oleh Rogers dan Tibben-Lembke (1999). Pada intinya
mereka mendefinisikan reverse logistics
sebagai aktivitas untuk merencanakan, mengaplikasikan, dan mengendalikan proses
agar tercapai efisiensi terkait dengan arus material, persediaan, produk jadi,
dan informasi terkait dari konsumen kembali ke manufaktur dengan tujuan untuk
mendapatkan kembali nilai ekonomis produk atau untuk melakukan proses
pembuangan yang tepat.
Reverse Logistics menunjukkan semua operasi yang
berkaitan dengan penggunaan kembali produk dan bahan. Proses ini mencakup
manajemen dan penjualan surplus, serta produk dikembalikan ke vendor dari
pembeli. Reverse ini menyangkut semua
operasi yang berhubungan dengan penggunaan kembali produk dan bahan. Ini adalah
proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang efisien, efektif aliran
biaya bahan baku, inventaris dalam proses, barang jadi dan informasi terkait
dari titik konsumsi ke titik asal untuk tujuan merebut kembali nilai atau tepat
pembuangan.
Dilain
pihak, isu lingkungan menjadi salah satu motivasi terkuat untuk melakukan
reverse logistic. Aktivitas utama dari reverse
logistics adalah mengumpulkan produk yang akan diperbaharui dan melakukan
redistribusi material baru yang dihasilkan.
2.2
Alasan Pengembalian Produk
Menurut
Dekker (2004) produk dikembalikan atau dibuang dikarenakan produk yang
dihasilkan tidak berfungsi secara baik atau dikarenakan oleh fungsi barang
tersebut sudah tidak dibutuhkan. Dapat saya simpulkan bahwa terdapat tiga
faktor pendorong yang dapat menimbulkan terjadinya reverse logistics yaitu:
1. Ekonomi Retur produk
dapat dijadikan sumber untuk pemulihan nilai.
2. Perundang-undangan.
Perundang-undangan yang dimaksud dimana ada suatu peraturan yang mengharuskan
perusahaan untuk memperbaiki produknya atau mengembalikan ke tempat asalnya.
3. Good-corporate
citizenship Corporate citizenship mementingkan suatu nilai atau prinsip dimana
dorongan dari organisasi atau perusahaan yang terlibat bertanggung jawab dengan
reverse logistics.
Bab 3. Penutup
3.1
Kesimpulan
Dari
beberapa penjelasan yang ada pada artikel ini maka dapat disimpulkan bahwa reverse logistics ini dapat mengurangi keterbatasan sumber daya bahan
baku, karena proses ini merupakan proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang
efisien, efektif aliran biaya bahan baku, inventaris dalam proses, barang jadi
dan informasi terkait dari titik konsumsi ke titik asal untuk tujuan merebut
kembali nilai atau tepat pembuangan. Lebih tepatnya, proses reverse
logistics adalah proses pemindahan barang dari tempat akhir barang tersebut
dengan tujuan untuk digunakan kembali atau untuk dibuang dengan benar.
3.2 Saran
Pada umumnya di dalam proses reverse logistics ini, perusahaan manufaktur hanya mementingkan
aktivitas reusable nya saja tanpa
memerhatikan aktivitas recyclable (produk daur ulang). Sebaiknya, saat
melakukan aktivitas reusable,
aktivitas recyclable nya pun harus
tetap berjalan, dalam rangka mengurangi biaya pembuangan dan perhatian terhadap
produk yang ramah lingkungan.
Daftar Pustaka
·
Gupta, S.M, (2004). Multi-criteria decision
making for disassembly-to order system under stochastic yields. Environmentally
Conscious Manufacturing IV, Proceedings of SPIE Vol. 5583 (SPIE, Bellingham,
WA, 2004) 0277-786X/04/$15 · doi: 10.1117/12.572060
·
Karakayali, I. Emir Farinas, H. Akcali, E.
(2007). An analysis of decentralized collection and processing of end-of-life
products. Journal of Operations Management 25 : 1161 – 1183.
·
Kongar E, Gupta S.M. (2006). Disassembly to
order system under uncertainty. Omega- International Journal of Management
Science, 34, 550-561.
·
Ostlin K, Sundin E, Bjorkman M. (2008). Importance
of closed loop supply chain relationships for product remanufacturing. International
Journal Production Economics 115 ; 336-348.
·
Asmuni, Idris, dkk. (2014). Pengembangan Model Reverse Logistics Dengan Pendekatan Goal Programming
Pada Produk Original Equipment Manufactures (OEMs). http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-10685-Chapter1.pdf
0 Response to "Mengurangi Keterbatasan Sumber Daya Bahan Baku dengan Reverse Logistics"
Posting Komentar